Radit dan Jani: ROMANTISME TAK BIASA

Jul 21st, 2008 | By administrator | Category: Berita Terkini, Ulasan dan Analisis

Radit dan Jani memilih menikah muda. Mereka sepakat mencari
formula kebahagiaan. Resepnya sederhana: penuhi hati dengan cinta!
Duit? Bukan masalah. Cukupkah itu?

Jangan dikira kalau gue enggak bisa beliin lu mobil sama rumah,
bukan berarti kita enggak bisa bahagia," begitulah kira-kira kata
Radit (diperankan Vino G bastian) kepada Jani (Fahrani).
    Dibumbui kehidupan liar yang tak memerhatikan tata krama dan
nilai sosial masyarakat, dalam konteks ini, sutradara Upi memakai
resep lama: menampilkan sosok Radit (anak band, kayaknya Upi suka
dengan anak band, tengok film dia sebelumnya Realita, Cinta dan Rock
N Roll, juga bertemakan anak band yang liar) yang kecanduan obat-
obatan terlarang.
    Konsekuensi dengan resep lawas ini bisa ditebak, Radit
menghalalkan segala cara untuk mendapatkan obat terlarang dan
membahagiakan istri. Ia jadi bandel sehingga masyarakat pun, termasuk
orangtua dan teman main bandnya, menolak eksistensi Radit.
    Resep ini yang diaduk-aduk Upi untuk memainkan cerita. Membuat
film bertemakan kehidupan bebas, liar, dan junkies memiliki
tantangan "klasik". Jika tak pandai meramu, jadinya hanya berputar
pada hal yang sama, yang sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar
atau sinetron. "Taruhannya" besar.
    Beban berat itu ada di pundak Vino (Realita, Cinta dan Rock N
Roll, Badai Pasti Berlalu) dan Fahrani (Kala). Mereka relatif bisa
berakting tanpa berjarak. Vino dan Fahrani bisa membawakan sosok
Radit dan Jani, hubungan "kimia" mereka pun terasa.

Sabar membangun
    Upi cukup sabar mengambil separuh waktu film yang berdurasi 115
menit itu hanya untuk membangun karakter Radit dan Jani. Sayang, kata-
kata celotehan yang dilontarkan keduanya terlalu diulang-ulang,
seperti ucapan "sabar ya...".
    Di sisi lain, upaya Upi menciptakan drama romantis yang "brutal"
cukup berhasil, tak ada tawa dalam film ini.
    Sayang, untuk sebagian besar adegan Upimemilih kamera panggul,
membuat penonton harus membiasakan diri dengan gambar yang "bergerak-
gerak". Pengulangan adegan yang terasa berlebihan juga muncul,
misalnya saat Radit bolak-balik "mengisap". Sementara hal klise
tampak, misalnya, pada gambaran perempuan "liar" yang ditunjukkan
dengan merokok.
    Film ini cukup berhasil memotret sebagian realitas dalam
kehidupan masyarakat kota, meski tak sampai pada "pesan" yang bisa
dipetik, seperti sistem sosial masyarakat yang tumpul atau sistem
rehabilitasi yang tak kitamiliki.
    Radit dan Jani memang dirancang sebagai film bertema cinta yang
sederhana. Skenario film yang bakal beredar di bioskop mulai 24
Januari ini ditulis sendiri oleh sang sutradara, Upi.
    Pemain lain yang meramaikan film ini di antaranya adalah Marrio
Merdhitia (Coklat Stroberi, nominasi pendatang baru terbaik Festival
Film Jakarta 2007), Nungki Kusumastuti (Ruang), dan Joshua Pandelaki
(Arisan dan Long Road to Heaven).
(AMIR SODIKIN)
Tags: , , ,

Comments are closed.