Perkembangan teknologi internet semakin tak terbendung. Berbagai
inovasi rumah di dunia maya itu terus diperbaiki hingga mendekati
selera dunia nyata: yaitu adanya interaksi antara pembuat web dan
pengunjung serta interaksi sesama pengunjung. Bagi yang tetap ngotot
web-nya tetap statis, tunggu saja ambruknya web itu.
Seorang pakar internet, Tim O'Reilly, bersama MediaLive
International, dalam sebuah curah pendapat menemukan istilah Web 2.0.
Istilah itu digunakan sebagai nama sebuah konferensi. O'Reilly
menggunakan istilah itu untuk menekankan web yang sifatnya interaktif.
Web 2.0 juga penanda sejarah, yaitu web yang selamat dari ancaman
kolaps pada tahun 2000-an. Tetapi, terminologi Web 2.0 ini banyak
ditolak para webmaster karena rancu dan tak memiliki cukup arti
(meaningless). Walaupun istilah Web 2.0 banyak ditolak, kini sudah
ada Web 3.0.
Jika Web 1.0 berkutat pada kecepatan akses dial-up dengan pipa
bandwith sekitar 50K dan Web 2.0 dengan bandwidth 1 megabit, maka Web
3.0 sekitar 10 megabit yang menawarkan tampilan web grafis dengan
ditunjang video web serta teknologi artificial intelligence yang
bernuansa tiga dimensi.
Tulisan ini tidak akan ikut membicarakan perdebatan itu, hanya
akan meminjam istilah Web 2.0 atau Web 3.0 untuk menandakan era yang
sudah berubah. Istilah ini cocok untuk Indonesia yang masih
menganggap website itu "sebuah proyek dan sesuatu yang mahal plus
boros".
Sebuah pertemuan tahunan "Pioneering the Future with HP" yang
digelar Hewlett-Packard di Senggigi, Nusa Tenggara Barat, juga sudah
ikut-ikutan membahas Web 2.0 ini. Terasa aneh bagi perusahaan yang
dikenal sebagai produsen printer membahas Web 2.0 ini.
Tetapi, perlu diingat salah satu unsur teknologi Web 2.0 adalah
kemudahan tampilan websiteyang membolehkan mencetak halaman web
secara cepat. Software printer HP pun dilengkapi kemudahan mengelola
pencetakan, baik dokumen teks maupun foto, dari sinilah HP ternyata
juga ingin mengambil bagian kue Web 2.0. Web 2.0 telah
menjadi "gimmick" yang menarik.
Praktisi teknologi internet, Mas Wigrantoro Roes Setiadi, yang
hadir dalam acara HP itu mengungkapkan, teknologi Web 2.0
sudah "wajib" bagi website era sekarang. Untuk bisa bersaing di masa
mendatang mau tidak mau perusahaan harus mengikuti tren ini.
Transparansi dan akuntabilitas sebuah lembaga bisa dilihat dari web-
nya.
"Sebenarnya fasilitas interaktif itu sudah banyak disediakan
teknologi web sekarang, tetapi untuk perusahaan di Indonesia banyak
yang masih berpikir apakah mau menghidupkan fasilitasitu atau
tidak," kata Mas Wigrantoro.
Fasilitas Forum, misalnya, jika dipasang memang akan meningkatkan
interaksi pengunjung dengan perusahaan. Tetapi, siap tidak perusahaan
menerima cercaan atau keluhan di Forum itu? "Maka, aplikasi Web 2.0
ini bergantung pada kebiasaan di Indonesia," kata Mas Wigrantoro.
Banyak gratis
Revolusi yang dihasilkan dari semangat web interaktif ini secara
mengejutkan lebih banyak disumbangkan oleh software-software yang
menggunakan platform gratis. Bahasa pemrograman PHP dan database
berbasis MySQL seolah merajai karena menawarkan kinerja software yang
gratis. PHP dan MySQL sudah menjadi paket gratis bersama sistem
operasi yang juga gratis, Linux, dan webserver gratis, Apache.
PHP, MySQL, Linux, Apache, telah menjadi "dewa penyelamat"
berkembangnya teknologi web interaktif yang murah meriah. Software di
bawah bendera Open Source yang memiliki semangat gratis juga merajai
karena menawarkan software website yang gratis dan sebagian sudah Web
2.0 dan sedang menuju Web 3.0.
Para developer berlomba-lomba menciptakan software yang
memfasilitasi interaksi antara pengunjung dan pemilik website atau
antarsesama pengunjung. Blog, Forum, Chat, fasilitas RSS, menjadi
standar yang harus ada di web interaktif dan kini terus dikembangkan.
Hebatnya, semua teknologi itu bisa didapatkan gratis. Tak harus
beli. Karena itu, web interaktif atau web dinamis membawa semangat
biaya yang radikal murah, lebih murah dari website statis.
Harus berubah
Wabah web interaktif hingga kini baru direspons di Indonesia
sebagai pengguna saja. Artinya, kebanyakan kita heboh hanya sebagai
pengguna Blogspot, Friendster, MySpace, dan web jaringan sosial
lainnya.
Padahal, ke depan harus dipikirkan, bagaimana agar kitalah yang
memiliki perusahaan penyedia layanan seperti Blogger, MySpace, atau
Friendster yang akan digunakan orang lain. Software seperti itu sudah
cukup banyak beredar di internet dan bisa digunakan secara instan.
Kita baru heboh sebagai pengguna Google Adsense, hanya dengan
memiliki web sederhana dan memasang iklan dari Google Awords saja
sudah bisa mendapatkan bayaran dari Google. Fantastis memang, tetapi
harus ada yang memikirkan bagaimana kalau kita saja yang membuat
bisnis iklan seperti Google Adwords atau bisnis afiliasi iklan
seperti Google Adsense. Jadi, orang Indonesia kalau mau iklan tak
harus ke Google Adwords.
Kita juga baru bangga bisa menjadi afiliasi dari toko Amazon,
tetapi kita belum banyak memikirkan bagaimana kalau kita saja yang
buat toko buku online itu dan bisa menyediakan sistem afiliasi yang
berani menggaji siapa pun yang mau memasang iklan atau banner toko
buku.
Kita baru bangga bisa menjual content kepada masyarakat melalui
perangkat mobile. Padahal, kita bisa mendapatkan keuntungan lebih
besar jika content itu digratiskan saja. Dengan menggratiskan
content, banyak pengunjung yang mengunjungi web dan itu artinya iklan
akan semakin mahal.
Web interaktif membawa semangat bahwa pengunjung adalah rajanya.
Semakin banyak fasilitas yang diberikan kepada pengunjung, semakin
bagus website itu di mata pengunjung maupun di mata mesin pencari,
juga di mata page-rank atau lembaga pemeringkat web.
Web yang dinamis yang interaktif adalah tuntutan zaman. Era ini
seharusnya ditangkap sebagai peluang, bukan hambatan. Pengunjung
adalah raja, maka manjakanlah dia, kalau perlu "bayarlah" dia untuk
berkunjung ke "rumah maya" Anda. (Amir Sodikin)